EducationTips & Tricks6 menit Baca

Wtlg Buktikan Curhat Gen Z Bisa Jadi Skill Ngomong

Wtlg Buktikan Curhat Gen Z Bisa Jadi Skill Ngomong

Di timeline Gen Z, curhat bisa muncul dalam banyak bentuk: story tengah malam, caption panjang, voice note ke teman dekat, sampai lagu yang diputar berulang karena liriknya terlalu kena. Tapi kasus Farid Fadillah, mahasiswa Ilmu Komunikasi UII angkatan 2021, membuat curhat itu naik kelas. Ia tidak memilih skripsi biasa untuk menutup masa studinya. Ia memilih karya musik berjudul Wtlg, akronim dari We’re the lost generation, untuk mengangkat keresahan Gen Z.

Menurut laporan laman Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia yang dimuat pada 27 Januari 2026, Farid melihat musik sebagai medium komunikasi yang bisa menyentuh emosi secara langsung. Ia mengolah keresahan Gen Z bukan sebagai curahan hati mentah, melainkan sebagai produk komunikasi yang valid dan akademis. Ini detail yang menarik: sesuatu yang sering dianggap cuma keluhan anak muda ternyata bisa diproses menjadi pesan yang punya struktur, medium, audiens, dan tujuan.

Visual thumbnail vertikal yang tampil di laman sumber juga memberi konteks bahwa proyek ini dipresentasikan sebagai karya musik, bukan sekadar pengumuman kampus. Fungsi visual itu penting, karena pembaca langsung menangkap bahwa pesan Farid dibawa lewat paket komunikasi yang lebih utuh: audio, identitas karya, dan cara penyajian yang dekat dengan budaya digital Gen Z.

Dari Curhat Jadi Produk Komunikasi

Wtlg tidak lahir dari ide abstrak yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Sumber UII menjelaskan bahwa liriknya disusun dari pengalaman pribadi, riset, dan observasi. Farid memilih genre pop house karena terasa fleksibel: ada chorus pop, bagian rap di awal, lalu verse melodik. Format ini membuat pesan emosional tetap punya energi, sehingga keresahan tidak terasa seperti ceramah panjang.

Di titik ini, ada pelajaran komunikasi yang dekat sekali dengan pelajar di Ketapang, Sintang, Sekadau, Pontianak, dan daerah Kalimantan Barat lain yang banyak belajar lewat layar. Sering kali orang merasa punya banyak isi kepala, tetapi bingung saat harus menjelaskan. Begitu diminta presentasi, menjawab pertanyaan guru, ikut diskusi kelas online, atau ngomong bahasa Inggris, pikiran terasa penuh tapi kalimatnya macet.

Farid menunjukkan bahwa isi kepala perlu diproses dulu sebelum dilempar ke audiens. Curhat boleh jadi bahan awal, tetapi komunikasi yang kuat butuh pilihan kata, urutan cerita, medium yang tepat, dan kesadaran soal siapa yang akan mendengar. Dalam speaking, ini sama pentingnya dengan pronunciation atau grammar. Orang yang kalimatnya rapi biasanya bukan karena tidak pernah bingung, melainkan karena terbiasa menyusun bingungnya.

Quarter-Life Crisis Bukan Cuma Drama Timeline

Sumber UII menyebut Wtlg mengangkat isu quarter-life crisis, terutama rasa bingung, takut, dan tertekan oleh ekspektasi orang lain, termasuk orang tua. Ini bukan isu kecil. Banyak Gen Z terlihat aktif di media sosial, bisa bercanda, bisa ikut tren, tetapi tetap menyimpan kecemasan soal masa depan, kuliah, kerja, ekonomi, dan apakah pilihan hidupnya cukup membanggakan.

Masalahnya, masyarakat kadang cepat memberi label: terlalu sensitif, kebanyakan overthinking, kurang tahan banting. Padahal dari sudut komunikasi, keresahan seperti ini justru perlu dibaca sebagai sinyal. Kalau anak muda tidak punya ruang untuk menamai perasaan dan menjelaskan pikirannya, keresahan mudah berubah menjadi diam, menghindar, atau meledak di tempat yang salah.

Untuk pelajar yang belajar jarak jauh, tekanan itu bisa makin terasa. Di kelas online, ada yang lebih memilih mute, kamera mati, atau mengetik singkat karena takut salah. Di daerah seperti Ketapang, Sintang, dan Sekadau, akses belajar bisa lebih fleksibel lewat online, tetapi tantangan mentalnya tetap nyata: berani buka suara, berani bertanya, dan berani menjelaskan pendapat tanpa merasa langsung dihakimi.

Kalau isi kepala belum rapi, speaking sering terasa seperti ujian. Kalau sudah dilatih, speaking jadi cara untuk membuat orang lain paham.

Mindset Speaking untuk Belajar Jarak Jauh

Speaking bukan sekadar ngomong lancar tanpa berhenti. Speaking adalah kemampuan mengubah isi kepala menjadi pesan yang bisa ditangkap orang lain. Karena itu, pelajar yang takut speaking tidak selalu kurang pintar. Banyak yang sebenarnya paham materi, tetapi belum punya pola untuk membuka kalimat, menyusun alasan, memberi contoh, lalu menutup dengan jelas.

Di sinilah Wtlg bisa dibaca sebagai contoh yang relevan. Farid tidak hanya punya keresahan; ia memilih bentuk, genre, durasi, kanal distribusi, dan audiens. Ia juga menghadapi keterbatasan produksi home recording di kos, kualitas audio yang tidak seperti studio profesional, serta tantangan menjaga attention span pendengar karena durasi lagu sekitar empat menit dianggap cukup panjang untuk kebiasaan dengar lagu hari ini.

Latihan kecil yang bisa langsung dipakai

  • Ubah curhat menjadi satu pesan utama. Misalnya bukan hanya bilang bingung, tetapi jelaskan bingung karena pilihan jurusan, tekanan nilai, atau takut salah bicara.
  • Latih opening singkat. Untuk speaking bahasa Inggris, mulai dari kalimat sederhana seperti I want to explain, I feel unsure because, atau In my opinion.
  • Batasi durasi latihan. Coba rekam voice note satu menit agar pesan tidak melebar dan perhatian pendengar tetap terjaga.
  • Pakai contoh konkret. Seperti Farid yang mengolah pengalaman, riset, dan observasi, pelajar juga bisa menambah contoh dari sekolah, keluarga, atau lingkungan sekitar.
  • Pilih medium yang cocok. Diskusi live meet, rekaman tugas, forum kelas, atau presentasi pendek bisa jadi ruang latihan sebelum tampil di situasi yang lebih besar.

Latihan ini kelihatannya sederhana, tetapi efeknya besar untuk pelajar yang selama ini merasa speaking itu harus sempurna. Padahal dalam proses belajar, yang lebih penting adalah progres: dari diam menjadi berani mencoba, dari kalimat acak menjadi lebih runtut, dari takut salah menjadi tahu bagian mana yang perlu diperbaiki.

Dari Wtlg ke Speaking English yang Kepakai

Kalau ditarik ke English learning, pesan Wtlg nyambung dengan masalah klasik pelajar: takut speaking di kelas. Banyak siswa merasa harus menunggu grammar sempurna dulu baru boleh ngomong. Akibatnya, latihan speaking tertunda terus. Padahal grammar dan vocabulary memang penting, tetapi keberanian menyampaikan ide juga harus dibangun lewat kebiasaan kecil yang konsisten.

Untuk pembaca Kalbar yang ingin belajar lebih terstruktur, Yz-Course memposisikan diri sebagai ekosistem pembelajaran English berbasis LMS dan AI, bukan sekadar tempat les. Di classroom digital, siswa bisa ikut live meet, mengerjakan assignment, melihat progress tracking, berdiskusi lewat AI Forum, membaca artikel pendukung, dan mendapat tutor follow-up. Pilihannya bisa online atau hybrid; untuk private dan home visit, tutor dapat datang ke rumah di area yang didukung sesuai ketersediaan tutor. Referensi jalur belajar bisa dilihat melalui /kursus-bahasa-inggris-pontianak tanpa harus menjadikan belajar terasa seperti brosur.

Poin utamanya bukan bahwa semua orang harus membuat lagu seperti Farid. Poinnya: keresahan, ide, dan rasa bingung bisa menjadi bahan komunikasi yang kuat kalau diproses. Buat pelajar Ketapang, Sintang, Sekadau, dan daerah Kalbar lain, speaking tidak harus dimulai dari pede besar. Kadang cukup dimulai dari satu kalimat yang jujur, lalu dilatih sampai rapi.

Wtlg memberi contoh bahwa suara Gen Z bisa punya nilai ketika tidak berhenti di scroll dan curhat. Di kelas, kampus, interview, presentasi, atau forum online, skill yang sama tetap berlaku: pahami isi kepala sendiri, susun pesan, pilih kata, lalu sampaikan dengan cara yang membuat orang lain benar-benar mengerti.

Sumber rujukan: laman Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia tentang karya musik Wtlg oleh Farid Fadillah, dipublikasikan 27 Januari 2026.

Baca juga: jalur daftar kelas Yz-Course, pilihan program Yz-Course, les private bahasa Inggris Pontianak.


Referensi sumber: Mewakili Suara Gen Z, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII Angkat Keresahan Lewat Karya Musik - Universitas Islam Indonesia

Terima Kasih Telah Membaca

Dapatkan rangkuman artikel, insight baru, dan materi belajar Yz-Course lewat broadcast email mingguan, atau lanjut ke konsultasi kalau targetmu sudah cukup jelas.