EducationTips & Tricks4 menit Baca

UKM Lensa UAD Bahas Fotografi dan Personal Branding Gen Z

UKM Lensa UAD Bahas Fotografi dan Personal Branding Gen Z

UKM Lensa UAD Bahas Fotografi dan Personal Branding Gen Z, Ini yang Bisa Dipelajari Orang Tua

Momen sekolah bisa jadi pengingat: anak nggak cuma perlu pintar di kelas, tapi juga berani bicara, bertanya, dan menyampaikan ide.

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fotografi Lensa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyelenggarakan agenda tahunan bertajuk Len's Workshop: Click to Cash pada Minggu, 21 Juni 2026, di Amphitarium Lantai 9 Kampus 4 UAD. Yang menarik, peserta workshop ini didominasi siswa SMA/SMK, bukan cuma mahasiswa dari UAD sendiri.

Ketua Umum UKM Lensa UAD periode 2026, Wildan Firdaus, menjelaskan bahwa workshop ini dirancang untuk merespons fenomena Gen Z yang tidak bisa lepas dari dunia digital. Melalui tema "Turning Photography into Content and Personal Branding for Gen Z", panitia berkomitmen mengedukasi generasi muda agar hasil tangkapan kamera tidak sekadar berakhir sebagai arsip dokumentasi pasif, melainkan mampu diolah menjadi produk kreatif yang menghasilkan nilai ekonomi.

Kenapa Peserta SMA/SMK Lebih Dominan di Workshop Ini

Fakta bahwa peserta didominasi siswa sekolah, bukan mahasiswa, menunjukkan sesuatu yang penting: kebutuhan memahami personal branding dan komunikasi digital ternyata sudah relevan sejak masa sekolah, bukan sesuatu yang baru dibutuhkan setelah masuk kuliah atau dunia kerja.

Ini sejalan dengan pola yang makin sering terlihat — anak dan remaja sekarang aktif memproduksi konten sejak usia sekolah, sehingga kemampuan menyusun pesan dan bercerita jadi skill yang perlu dilatih lebih awal, bukan ditunda.

Fotografi dan Konten Sebenarnya Butuh Kemampuan Bercerita

Mengubah hasil foto jadi konten yang bernilai butuh lebih dari sekadar teknik pengambilan gambar. Ada proses menjelaskan cerita di balik foto, menyusun narasi yang menarik, dan menyampaikan pesan yang bisa dipahami audiens dalam waktu singkat.

Kemampuan ini pada dasarnya adalah kemampuan komunikasi dasar — sama seperti yang dibutuhkan saat anak presentasi tugas sekolah, menjawab pertanyaan guru di kelas, atau menjelaskan ide ke teman sebaya. Fotografi di sini jadi salah satu pintu masuk yang menarik, karena anak belajar bercerita lewat medium yang mereka sukai.

Kenapa Orang Tua Perlu Melihat Ini Lebih dari Sekadar Hobi Fotografi

Banyak orang tua melihat aktivitas anak di dunia konten kreatif sebagai hobi semata, padahal di baliknya ada latihan komunikasi yang cukup berharga. Anak yang terbiasa menjelaskan foto atau video yang mereka buat, sebenarnya sedang melatih kemampuan menyampaikan ide secara terstruktur — kemampuan yang sama juga dibutuhkan saat mereka harus presentasi, wawancara, atau menjelaskan pendapat di ruang kelas.

Melihat hal ini secara terpisah — hobi di satu sisi, akademik di sisi lain — bisa membuat orang tua melewatkan kesempatan untuk membantu anak mengembangkan kedua hal itu bersamaan.

Cara Mengubah Kabar Jadi Latihan Komunikasi

Kabar seperti ini bisa diubah jadi latihan komunikasi untuk anak. Ambil inti beritanya, tulis tiga poin utama, lalu jelaskan kembali dengan bahasa sendiri. Cara ini melatih membaca, merangkum, dan berbicara dalam satu alur.

Kalau ingin dibawa ke bahasa Inggris, mulai dari kalimat yang pendek dan jelas. Fokus dulu pada pesan utama, bukan pada gaya bahasa yang terlalu rumit. Setelah alurnya kuat, kosakata dan grammar bisa diperbaiki bertahap.

Kenapa Bahasa Inggris Tetap Jadi Modal Penting Sejak Dini

Untuk anak dan remaja yang mulai aktif membuat konten atau tertarik pada dunia kreatif digital, bahasa Inggris makin relevan sebagai bekal jangka panjang. Bahasa Inggris membuka akses ke audiens yang lebih luas, referensi kreatif internasional, dan kemampuan memahami tren global tanpa harus menunggu terjemahan.

Momen seperti workshop ini bisa dibaca sebagai pengingat bahwa belajar bahasa Inggris tidak cukup berhenti di hafalan kosakata. Anak perlu dilatih memahami konteks, memilih kata yang tepat, menyusun urutan bicara, dan berani mencoba walau belum sempurna — persis seperti yang mereka latih saat belajar bercerita lewat foto atau konten.

Pola Latihan yang Bisa Diterapkan di Rumah

Beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba orang tua bersama anak:

  • Baca satu informasi, tandai kata kunci, lalu minta anak menjelaskan ulang dengan bahasa sendiri.

  • Kalau anak sedang membuat konten atau foto, ajak diskusi tentang cerita di baliknya — apa yang terjadi, kenapa menarik, dan apa yang ingin disampaikan.

  • Jika masih terasa blank, gunakan kerangka "what happened", "why it matters", "what we can learn from it" untuk membantu anak menyusun urutan idenya.

Latihan sederhana seperti ini membantu anak terbiasa menyusun pesan yang jelas, baik untuk presentasi sekolah, konten, maupun percakapan sehari-hari.

Belajar yang Lebih Terstruktur di Yz-Course

Belajar komunikasi dan bahasa Inggris sebaiknya tidak berhenti hanya di satu sesi kelas atau satu momen inspiratif seperti workshop. Anak perlu ruang untuk mengulang materi, menyimpan catatan, menerima tugas, melihat progres, dan bertanya saat mulai lupa.

Di Yz-Course, arah belajarnya dibuat lebih terstruktur lewat tutor, classroom digital, forum, materi latihan, dan progress tracking — cocok buat orang tua yang ingin anaknya lebih berani speaking dan menyampaikan ide, sekaligus membangun fondasi bahasa Inggris yang kuat sejak usia sekolah.


Jalur Terkait yang Bisa Dicek

Cek kelas anak dan remaja di /kursus-anak-pontianakBuka halaman terkait


Referensi sumber: UKM Lensa UAD Bahas Fotografi dan Personal Branding Gen Z — kumparan.com

Terima Kasih Telah Membaca

Dapatkan rangkuman artikel, insight baru, dan materi belajar Yz-Course lewat broadcast email mingguan, atau lanjut ke konsultasi kalau targetmu sudah cukup jelas.