EducationTips & Tricks6 menit Baca

Lala Bangun Karier, Gen Z Jangan Kejebak Drama Online

Lala Bangun Karier, Gen Z Jangan Kejebak Drama Online

Satu notifikasi drama online masuk, lalu kita buka thread, baca komentar, pindah ke TikTok, cek ulang story orang, dan tiba-tiba satu jam belajar hilang begitu saja. Rasanya tetap sibuk, padahal yang naik bukan skill, melainkan rasa penasaran yang nggak ada ujungnya.

Di titik itu, kisah Lala Nabilah Chandra yang diangkat Inforadar.id terasa relevan buat Gen Z. Lala, mahasiswi semester 6 Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, memilih memakai masa kuliah buat membangun pengalaman profesional: freelance, organisasi, komunitas, public speaking, sampai pemanfaatan AI. Visual sumber yang tersedia menempatkan Lala sebagai wajah cerita ini, jadi pembaca melihatnya sebagai contoh nyata mahasiswa yang sedang membangun jejak, bukan sekadar teori karier.

Dari Timeline ke Portofolio

Yang menarik dari cerita Lala bukan karena ia terlihat paling sibuk. Yang penting justru arah kesibukannya. Dalam laporan Inforadar.id, Lala digambarkan aktif mencari pengalaman sebelum lulus, termasuk magang di Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Pandeglang. Di sana, ia mengasah olah vokal sebagai penyiar Radio Berkah FM, pengalaman yang nyambung dengan minatnya pada public speaking.

Ia juga pernah terlibat dalam manajemen acara sebagai Sekretaris Produksi Festival Fakultas Dakwah UIN Banten. Dari sisi komunikasi pemasaran, sumber juga menyebut ia mengasah kemampuan melalui peran di bidang content marketing. Artinya, aktivitasnya tidak berhenti di tampil aktif, tetapi menghasilkan bukti: pengalaman, jaringan, portofolio, dan kemampuan menjelaskan diri.

  • Freelance dipakai sebagai ruang latihan kerja, bukan cuma cara cari uang tambahan.
  • Komunitas dan organisasi menjadi tempat membangun relasi serta membaca kebutuhan industri.
  • Magang memberi pengalaman langsung menghadapi ritme kerja profesional.
  • Public speaking dilatih lewat radio, acara, dan peran komunikasi.
  • AI diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti proses berpikir.

Masalahnya Bukan Internet, Tapi Arah Perhatian

Internet sebenarnya membuka peluang besar. Anak muda di Pontianak, Kubu Raya, Ketapang, Sintang, Sekadau, Sambas, Singkawang, sampai Kapuas Hulu bisa belajar skill baru, ikut webinar, cari freelance, bangun LinkedIn, membuat portofolio, dan latihan interview dari mana saja. Yang bikin mandek bukan teknologinya, melainkan kebiasaan memakai teknologi cuma untuk bereaksi.

Drama online membuat otak terbiasa menunggu konflik berikutnya. Hari ini baca debat influencer, besok ikut komentar soal viral kampus, lusa sibuk membandingkan hidup sendiri dengan pencapaian orang. Akhirnya belajar jadi terasa berat karena kalah seru dari keributan timeline. Padahal dunia kerja, kampus, beasiswa, dan freelance tidak menilai seberapa cepat kita tahu drama. Yang dilihat adalah cara berpikir, cara bicara, kualitas kerja, dan konsistensi.

Teknologi yang sama bisa bikin kamu tertinggal atau berkembang. Bedanya ada di kebiasaan: dipakai buat scroll tanpa arah, atau dipakai buat membangun skill yang kelihatan hasilnya.

Kebiasaan Kecil yang Bikin Belajar Mandek

Ada beberapa kebiasaan yang kelihatannya ringan, tapi efeknya besar. Pertama, belajar sambil terus membuka notifikasi. Otak jadi pindah-pindah konteks, sehingga materi yang sebenarnya bisa selesai 30 menit terasa seperti dua jam. Kedua, menyamakan aktif online dengan produktif. Banyak anak muda merasa sudah belajar karena menonton banyak konten edukasi, padahal belum mencatat, belum mencoba, dan belum menghasilkan apa pun.

Ketiga, memakai AI hanya untuk menyalin jawaban. Ini kelihatan cepat, tapi membuat kemampuan menyusun ide tidak tumbuh. Keempat, terlalu lama mengamati hidup orang lain sampai lupa membangun bukti diri sendiri. Kelima, terbiasa berkomunikasi secara reaktif: cepat membalas, cepat menyindir, cepat panik, tetapi lambat menjelaskan gagasan dengan rapi.

Di sinilah cerita Lala memberi pembeda. Ia tidak cuma berada di ruang digital, tetapi memindahkan akses digital menjadi pengalaman: tampil, menulis, mengelola acara, masuk komunitas, mencoba freelance, dan belajar membaca dunia kerja. Itu pola yang bisa ditiru tanpa harus menjadi orang terkenal.

Pakai AI Buat Skill, Bukan Buat Jalan Pintas

AI bisa sangat membantu Gen Z kalau dipakai dengan benar. Untuk mahasiswa, AI bisa membantu membuat kerangka presentasi, merapikan outline artikel, menyiapkan pertanyaan interview kerja, menyimulasikan percakapan bahasa Inggris, atau mengecek apakah CV sudah jelas. Untuk kreator, AI bisa membantu riset ide, menyusun kalender konten, dan menguji beberapa versi caption. Untuk pelajar, AI bisa dipakai untuk menjelaskan ulang materi yang sulit dengan bahasa sederhana.

Namun, ada batas yang harus dijaga. AI tidak boleh membuat kita malas memahami isi. Kalau semua jawaban tinggal disalin, yang terlihat rapi hanya tugasnya, bukan kemampuan kita. Saat masuk presentasi, wawancara, lomba, kerja freelance, atau diskusi kampus, kemampuan asli tetap akan terlihat dari cara menjelaskan alasan, merespons pertanyaan, dan menyusun argumen.

Untuk pembaca yang ingin melatih komunikasi, speaking, interview English, atau public speaking dengan alur yang lebih terstruktur, Yz-Course di Pontianak dan Kalimantan Barat bisa jadi referensi belajar lewat kursus bahasa Inggris Pontianak. Pendekatannya bukan sekadar les, tetapi ekosistem belajar dengan LMS, classroom digital, live meet, assignment, progress tracking, AI Forum, artikel, dan tutor follow-up. Opsi online, hybrid, serta home visit tersedia di area yang didukung sesuai ketersediaan tutor.

Biar Nggak Kalah Sama Drama Timeline

Kalau ingin teknologi membantu hidup, mulai dari checklist sederhana. Bukan yang muluk-muluk, tapi cukup jelas untuk mengubah kebiasaan harian.

  • Tentukan satu skill utama bulan ini, misalnya public speaking, desain, writing, English interview, atau content marketing.
  • Batasi waktu konsumsi drama online, terutama sebelum belajar atau sebelum tidur.
  • Ubah satu konten yang kamu tonton menjadi output, seperti catatan, thread, desain, video pendek, atau latihan presentasi.
  • Pakai AI untuk bertanya, menyusun kerangka, dan mengecek kualitas, bukan untuk mengganti seluruh proses berpikir.
  • Simpan bukti perkembangan: portofolio, rekaman speaking, CV, sertifikat, proyek freelance, atau dokumentasi kegiatan.

Gen Z memang hidup di era yang ramai. Ada banyak suara, tren, peluang, dan distraksi yang datang bersamaan. Tapi justru karena itu, kemampuan memilih fokus menjadi skill penting. Drama online bisa bikin kita merasa ikut dunia, tetapi portofolio yang rapi, komunikasi yang jelas, dan kebiasaan belajar yang konsisten lebih mungkin membuka peluang nyata.

Kisah Lala menunjukkan bahwa masa kuliah atau masa muda bisa dipakai untuk bereksperimen secara serius. Bukan harus langsung sempurna, bukan harus langsung viral, dan bukan harus punya semua alat paling canggih. Yang penting, teknologi dipakai untuk memperjelas arah: belajar, mencoba, membangun relasi, melatih komunikasi, lalu meninggalkan bukti yang bisa dilihat orang lain.

Sumber rujukan: https://inforadar.disway.id/pendidikan/read/685405/strategi-gen-z-hadapi-dunia-kerja-cara-gen-z-perkuat-karier-lewat-komunitas-dan-freelance

Baca juga: les private bahasa Inggris Pontianak, home visit bahasa Inggris Kalbar, kursus speaking Pontianak.

Catatan editorial: artikel ini membahas public figure, karakter, atau tren pop culture sebagai konteks edukatif. Yz-Course tidak berafiliasi, tidak disponsori, dan tidak mewakili tokoh, agensi, brand, atau pemilik karakter yang disebut.


Referensi sumber: Strategi Gen Z Hadapi Dunia Kerja, Cara Gen Z Perkuat Karier lewat Komunitas dan Freelance - inforadar.disway.id - Inforadar.id

Terima Kasih Telah Membaca

Dapatkan rangkuman artikel, insight baru, dan materi belajar Yz-Course lewat broadcast email mingguan, atau lanjut ke konsultasi kalau targetmu sudah cukup jelas.