Gen Z Perlu Paham Efek Kala Zine Lagi Naik Daun di Jepang

Bayangkan suara kertas berderak, sabuk konveyor berputar, dan tangan kreator yang menghitam karena tinta. Di sebuah pabrik percetakan Kyoto Shimbun di Jepang, Kazuma Obara dan Akihico Mori memperhatikan esai foto mereka berubah menjadi lembaran zine. Momen itu terasa hampir kebalikan dari kebiasaan kita hari ini: buka layar, tulis cepat, kirim cepat, lalu berharap semua orang menangkap maksud kita dengan benar.
Laporan CNN Indonesia yang mengutip AFP menyorot tren zine di Jepang yang justru naik daun ketika industri penerbitan turun dan AI makin kuat. Visual yang menyertai laporan itu memperlihatkan kertas koran bergerak di mesin percetakan dan teknisi memeriksa halaman satu per satu. Gambar itu penting karena topiknya bukan sekadar kertas versus layar. Yang terlihat adalah proses: ada sentuhan, pengecekan, ritme lambat, dan kualitas yang tidak selesai hanya karena sesuatu sudah bisa dibuat cepat.
Dari mesin cetak Kyoto ke kebiasaan scroll
Di Jepang, penerbitan independen dan zine buatan tangan kembali menarik perhatian. Obara, seorang fotografer, melihat kertas sebagai media yang melibatkan indera, tidak seperti media sosial yang sering terasa tertutup di layar masing-masing. Mori, penulis yang bekerja dengannya, menilai daya tarik zine datang dari energi pembuatnya yang terasa ketika karya itu dipegang. Intinya jelas: teknologi boleh makin pintar, tetapi manusia masih mencari bukti rasa, niat, dan kehadiran.
Fakta dari sumber juga menarik. Kyoto Shimbun membuka mesin cetaknya untuk para seniman sebagai cara mencari fungsi baru ketika pelanggan koran menurun. Dalam proses cetak, lima teknisi berseragam membolak-balik halaman untuk mengecek kualitas. Data yang dikutip AFP menyebut penjualan buku dan majalah di Jepang turun jauh dari puncaknya pada 1996, sementara sirkulasi koran yang pernah mencapai 53,76 juta pada 1997 telah turun lebih dari setengah pada 2025. Namun pasar self-publishing diperkirakan mencapai 150 miliar yen untuk tahun yang berakhir Maret 2026, hampir dua kali lipat dari empat tahun sebelumnya.
Ini bukan nostalgia kosong. Di Tokyo, pengunjung muda datang ke pameran zine yang berisi fotografi, desain abstrak, monolog personal, sampai ilustrasi harian. Harumi Kikuchi, pengunjung 22 tahun, melihat algoritma AI dan media sosial sering menyuapi kita dengan hal yang dianggap cocok, bukan selalu hal yang benar-benar ingin kita temukan. Zine memberi ruang untuk dunia yang lebih beragam. Watashi Kishino, kreator zine yang menggambar kesehariannya dalam ilustrasi hitam putih, juga melihat nilai pada benda yang bisa dipegang. Bahkan Sanseido, toko buku berusia 145 tahun di Jimbocho, ikut menaruh zine di raknya karena pembaca mencari sesuatu yang terasa lebih dekat dan niche.
Jenna Ortega: kritik benar bisa salah bunyi
Dari sini, kita bisa masuk ke studi kasus yang lebih dekat dengan budaya pop Gen Z: Jenna Ortega. Setelah Wednesday meledak secara global, Ortega pernah mendapat sorotan karena komentarnya tentang proses kreatif serial itu. Dalam wawancara Armchair Expert pada 2023, ia menjelaskan bahwa ia merasa sangat protektif terhadap karakter Wednesday dan beberapa kali tidak sepakat dengan dialog atau arah adegan yang menurutnya tidak cocok untuk karakter itu. Secara substansi, ini bisa dibaca sebagai kepedulian terhadap kualitas peran.
Masalahnya, kritik yang keluar di ruang publik tidak selalu diterima sesuai niat awal. Komentar Ortega muncul tidak lama sebelum isu besar seputar penulis Hollywood dan WGA strike menjadi perhatian luas. Beberapa penulis ikut menyindirnya, media mengangkat potongan kalimat yang paling panas, dan publik membaca persoalan itu sebagai konflik antara aktor dan penulis. Dalam wawancara Vanity Fair yang kemudian dirangkum Teen Vogue, Ortega mengakui bahwa ia bisa menggunakan kata-kata yang lebih baik untuk menjelaskan situasi tersebut. Ia juga menyadari bahwa satu kutipan bisa terasa sangat diperbesar ketika sudah masuk mesin media sosial.
Yang membuat kasus ini berguna untuk dibahas bukan dramanya, melainkan pola komunikasinya. Ortega tidak sedang menjadi bahan gosip di sini. Ia menjadi contoh bahwa kritik profesional membutuhkan lebih dari sekadar keberanian bicara. Kritik perlu konteks, pilihan kata, kanal yang tepat, dan kesadaran posisi. Menariknya, pada season berikutnya Ortega mendapat peran produser, sehingga ruang memberi masukan menjadi lebih resmi. Tim Burton juga menyebut keterusterangannya sebagai aset kreatif. Artinya, masalahnya bukan pada punya pendapat. Masalahnya ada pada cara pendapat itu dikemas dan dibaca.
AI mempercepat draft, bukan otomatis memperbaiki nada
Di era AI, kebiasaan komunikasi kita makin cepat. Pelajar bisa minta AI merapikan esai. Mahasiswa bisa membuat draft presentasi. Pekerja bisa menyusun email, caption, CV, atau jawaban interview dengan bantuan tools. Semua itu berguna. Tetapi AI tidak otomatis tahu kapan sebuah kritik perlu disampaikan di grup, kapan sebaiknya lewat pesan pribadi, kapan harus disertai data, dan kapan perlu diawali dengan pengakuan terhadap usaha orang lain.
Zine Jepang memberi kontras yang menarik: ketika dunia digital memadatkan pesan menjadi potongan cepat, sebagian Gen Z justru mencari media yang pelan, konkret, dan terasa manusiawi. Kasus Jenna Ortega menunjukkan sisi lain: ketika kalimat masuk ke ruang publik internasional, konteks bisa hilang, niat bisa bergeser, dan kritik bisa berubah menjadi label personal. Dua cerita ini bertemu di satu titik: kualitas komunikasi tidak hanya ditentukan oleh isi, tetapi juga medium, timing, dan rasa.
Kritik profesional bukan soal terdengar paling pintar. Kritik profesional adalah membuat masalah lebih jelas tanpa membuat orang kehilangan muka atau kehilangan arah.
Dalam komunikasi kerja, kampus, maupun kelas, kritik yang baik biasanya punya tiga unsur. Pertama, fakta yang bisa ditunjuk. Kedua, dampak yang bisa dijelaskan. Ketiga, saran yang bisa dikerjakan. Kalau hanya bilang presentasimu kacau, orang mungkin defensif. Kalau bilang bagian data sudah kuat, tetapi alur slide 3 ke 4 loncat sehingga audiens sulit mengikuti argumen, lalu menyarankan satu kalimat transisi, kritik itu lebih bisa dipakai.
Checklist sebelum mengkritik tugas, ide, atau karya
- Pisahkan fakta dan selera. Fakta bisa berupa data yang salah, instruksi yang belum terpenuhi, atau bagian presentasi yang tidak jelas. Selera adalah preferensi pribadi, misalnya warna, gaya bicara, atau pilihan contoh.
- Pilih kanal yang tepat. Kritik teknis bisa dibahas di dokumen atau kelas. Kritik sensitif lebih aman lewat percakapan privat agar orang tidak merasa dipermalukan.
- Mulai dari tujuan. Jangan langsung menyerang hasil. Jelaskan dulu targetnya, misalnya agar audiens lebih paham, agar tugas sesuai rubrik, atau agar jawaban interview terdengar lebih rapi.
- Berikan contoh pengganti. Kritik tanpa opsi sering membuat orang bingung. Tunjukkan satu versi kalimat, struktur, atau langkah perbaikan yang lebih jelas.
- Tutup dengan tindak lanjut. Setelah memberi masukan, tentukan apa yang harus diperbaiki, kapan dicek lagi, dan bagian mana yang sudah cukup baik.
Checklist ini berguna untuk banyak situasi Gen Z: review tugas kelompok, komentar di forum kelas, feedback desain, diskusi organisasi kampus, sampai latihan interview kerja bahasa Inggris. Bahkan ketika memakai AI untuk membuat draft komentar, tetap baca ulang nadanya. Pertanyaan pentingnya bukan hanya apakah kalimat ini benar, tetapi apakah kalimat ini membantu orang memperbaiki sesuatu.
Untuk Gen Z Kalbar, skill ini makin kepakai
Buat pembaca di Pontianak, Kubu Raya, Mempawah, Singkawang, Ketapang, Sintang, Sekadau, Sanggau, Sambas, Bengkayang, Landak, Melawi, Kapuas Hulu, dan Kayong Utara, isu ini terasa dekat. Banyak tugas sekolah, presentasi kampus, seleksi kerja, dan komunikasi profesional sekarang sudah bercampur dengan teknologi. Kita bisa memakai AI untuk mencari ide, merapikan struktur, atau latihan jawaban. Tapi saat harus ngomong langsung, menanggapi kritik, atau menjelaskan pendapat dalam bahasa Inggris, yang diuji tetap manusia: cara berpikir, pilihan kata, dan ketenangan.
Di Yz-Course, konteks seperti ini nyambung dengan cara belajar berbasis LMS: classroom digital, live meet, assignment, progress tracking, AI Forum, artikel, dan tutor follow-up. Untuk yang ingin melatih speaking, presentasi, interview, atau English untuk kerja di Pontianak dan Kalimantan Barat, jalur belajar bisa dilihat lewat kursus bahasa Inggris Pontianak. Opsi online, hybrid, dan home visit tetap mengikuti area yang didukung serta ketersediaan tutor.
Pada akhirnya, zine Jepang dan kasus Jenna Ortega memberi pelajaran yang sama dari dua arah berbeda. Satu menunjukkan bahwa manusia masih mencari karya yang punya sentuhan. Satu lagi menunjukkan bahwa pendapat yang kuat tetap perlu cara penyampaian yang matang. AI bisa membantu kita lebih produktif, tetapi komunikasi yang rapi tetap harus dilatih: membaca konteks, memilih kata, menahan diri saat perlu, dan berani memberi masukan dengan cara yang membuat orang benar-benar bisa bergerak maju.
Referensi
- CNN Indonesia/AFP: https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20260601181117-241-1364236/kala-zine-lagi-naik-daun-di-jepang-ai-tak-akan-bisa-menirunya
- Vanity Fair: https://www.vanityfair.com/hollywood/story/jenna-ortega-cover-interview
- Teen Vogue: https://www.teenvogue.com/story/jenna-ortega-clarifies-wednesday-rewriting-controversy
Baca juga: pilihan program Yz-Course, les private bahasa Inggris Pontianak, home visit bahasa Inggris Kalbar.
Catatan editorial: artikel ini membahas public figure, karakter, atau tren pop culture sebagai konteks edukatif. Yz-Course tidak berafiliasi, tidak disponsori, dan tidak mewakili tokoh, agensi, brand, atau pemilik karakter yang disebut.
Referensi sumber: Kala Zine Lagi Naik Daun di Jepang, 'AI Tak Akan Bisa Menirunya'